Medan-Intipnews.com:Anggota DPRD Kota Medan Afif Abdillah, SE menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIWK) di Jalan Megawati Gang Damai, Lingkungan VI, Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area, Minggu (21/6).
Dalam kegiatan tersebut, Afif Abdillah mengajak masyarakat, khususnya para orang tua, untuk memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus informasi dan penggunaan gawai (gadget) yang kini semakin memengaruhi kehidupan generasi muda.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu anak-anak memperoleh informasi secara terbatas dari lingkungan keluarga dan sekolah, kini mereka dapat mengakses berbagai informasi melalui layar ponsel yang belum tentu semuanya berdampak positif.
“Anak-anak sekarang pikirannya sudah terlalu banyak dipenuhi informasi. Dulu kita tidak sebanyak itu menerima informasi.
Sekarang, selain mencontoh orang tua, anak-anak juga mencontoh apa yang mereka lihat di layar gadget. Karena itu, kita harus menjaga agar mereka tidak melupakan Pancasila, kebangsaan, dan kecintaan terhadap negeri ini,” ujar Afif.
Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang unik dan istimewa karena mampu menyatukan ribuan pulau, suku, bahasa, dan budaya yang berbeda dalam satu ikatan bangsa.
“Indonesia ini negara yang luar biasa. Kita berbeda bahasa, adat, dan budaya, tetapi tetap bersatu. Dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Papua semuanya berbeda, namun kita tetap satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air Indonesia,” katanya.
Afif juga menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan bukan karena menjadi bahasa mayoritas, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap persatuan bangsa.
“Bahasa mayoritas saat itu adalah bahasa Jawa, tetapi yang dipilih sebagai bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia yang berasal dari Melayu. Itu menunjukkan bagaimana para pendiri bangsa sangat menghargai persatuan,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Afif mengupas makna sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Ia menegaskan bahwa Pancasila merupakan dasar negara dan sumber dari seluruh peraturan perundang-undangan di Indonesia.
“Semua aturan yang dibuat harus bersumber dan berpedoman pada Pancasila. Tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan sila pertama. Setiap agama di Indonesia harus dihargai dan dihormati. Karena itu, kita tidak boleh membeda-bedakan orang hanya karena perbedaan agama,” tegasnya.
Ia menambahkan, masyarakat Indonesia pada dasarnya telah memiliki budaya toleransi yang kuat dan harus terus dipertahankan.
Mengenai sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Afif mengajak masyarakat untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga lingkungan.
“Toleransi di Indonesia sangat luar biasa. Tidak banyak negara yang memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya sebanyak Indonesia, tetapi tetap bisa bersatu,” ujarnya.
“Contoh sederhana adalah tidak membuang sampah sembarangan. Jangan sampai karena ulah segelintir orang, masyarakat lain yang terkena dampaknya seperti banjir. Kita harus beradab dan berlaku adil terhadap sesama,” ucapnya.
Di akhir kegiatan, Afif menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi pedoman hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, persatuan Indonesia akan tetap terjaga untuk generasi mendatang,” pungkasnya.Itp.05








