Mengecam OPM Bakar Sekolah, Hancurkan Generasi Muda Papua

5
Oplus_131072

Oleh : Matias Tabuni 

Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus melangsungkan aksi keji mereka, salah satunya yakni dengan membakar sekolah. Dengan adanya pembakaran pada gedung tempat belajar dan mengajar tersebut jelas sudah sangat menghancurkan generasi muda di Papua.

Aksi brutal OPM yang membakar sekolah tidak dapat ditoleransi. Padahal keberadaan sekolah sendiri merupakan hal yang sangat masyarakat Papua inginkan dan impikan, agar mereka bisa menitipkan para putra dan putrinya untuk mengenyam bangku pendidikan sehingga ke depannya mereka bisa menjadi generasi penerus yang berkompeten dengan adanya banyak ilmu dari sekolah.

Akan tetapi, justru harapan tersebut terus OPM hilangkan dengan bagaimana aksi keji mereka membakar sekolah yang sama saja telah menghancurkan mimpi, cita-cita serta harapan seluruh generasi muda di Papua.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua, Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Mathius D Fakhiri menyatakan dirinya sangat prihatin dengan adanya kasus pembakaran yang OPM lakukan terhadap sekolah di Bumi Cenderawasih.

Oleh karena itu, untuk meminimalisasi hal tersebut agar tidak sampai terulang kembali, maka aparat keamanan sangat berharap adanya partisipasi aktif dari seluruh masyarakat untuk sesegera mungkin melaporkan pada pihak yang berwajib apabila mendapati adanya tindak mencurigakan dari OPM.

Dampak dari adanya aksi pembakaran gedung sekolah yang gerombolan separatis musuh negara itu lakukan sebenarnya sangat besar, utamanya bagi generasi muda di Papua. Bahkan bukan hanya membakar gedung sekolah saja, namun OPM juga mengintimidasi para guru sehingga mereka merasa ketakutan.

Tentu saja dengan adanya hal tersebut, maka bagaimana bisa aktivitas belajar dan mengajar bisa terlaksana dengan maksimal, apabila bahkan para guru yang hendak mengajar saja terus berkutat dengan rasa ketakutan dan kekhawatiran akan terjadinya gangguan keamanan pada diri mereka.

Beberapa waktu lalu, Organisasi Papua Merdeka membakar sebuah bangunan Sekolah Dasar (SD) Inpres Pogapa di Intan Jaya, Papua Tengah. Mirisnya, bahkan aksi tersebut mereka lakukan usai menembak mati seorang warga sipil asal Toraja.

Kasus pembakaran sekolah itu terjadi di Kampung Pogapa Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya sekitar pukul 08:00 WIT, yang mana lokasi pembakaran berdekatan pula dengan lokasi penembakan warga sipil bernama Alexsander Parapak (20).

Sehingga, tidak hanya sangat menghambat upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur secara fisik saja, melainkan keberadaan dan bagaimana tindak biadab OPM juga sangat menghambat generasi muda untuk bisa maju dan merasakan pendidikan yang berkualitas.

Terlebih, para tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh pemuda di Papua juga seluruhnya telah kompak menolak dan mengutuk keras keberadaan gerombolan teroris musuh negara tersebut. Mereka semua menolak segala bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan pemerintah Republik Indonesia (RI).

Salah satu tokoh masyarakat adat Papua, Yanto Eluay menuturkan bahwa sejatinya keberadaan OPM merupakan bagian dari upaya propaganda Belanda untuk membenturkan rakyat Bumi Cenderawasih sendiri dengan pemerintah RI sejak tahun 1963 silam.

Tujuan utama mereka adalah untuk memutuskan langkahnya dalam menguasai seluruh kekayaan di Papua secara sepenuhnya selama masa pendudukan. Caranya, yakni dengan mendorong masyarakat setempat untuk menuntut kemerdekaan agar nantinya sumber daya yang ada mampu Belanda kuasai.

Dengan adanya hasutan Belanda itu, maka memunculkan adu domba bagi sesama warga Papua, karena memiliki kepentingan yang mengakibatkan masyarakat saling berkonflik yang berujung kepada penderitaan rakyat sendiri.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan sejarah yang benar kepada seluruh generasi muda, lantaran di tangan para pemuda itu bagaimana arah masa depan daerah selanjutnya berada.

Setelah dengan jelas membakar sekolah dan merusak aktivitas belajar serta mengajar, jangan sampai kemudian OPM juga merusak masa depan generasi muda dengan menghasut mereka untuk mau menjadi bagian dari pemberontakan dan gerakan separatisme.

Sementara itu, Ondoafi Kampung Atamali, Septinus Ibo kemudian mengajak kepada seluruh generasi muda di Papua untuk terus melakukan berbagai macam kegiatan yang positif serta tidak mudah terhasut oleh adanya doktrin dari pihak yang berseberangan dengan ideologi negara.

OPM adalah peninggalan dari Belanda, yang sama sekali tidak mau bahwa Republik Indonesia (RI) ini mengalami kemajuan dan perkembangan. Oleh karenanya, jangan sampai masyarakat justru melakukan kegiatan yang malah dapat merugikan diri dan daerahnya sendiri.

Apabila generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh berbagai macam langkah Organisasi Papua Merdeka, maka setidaknya mereka sudah berkontribusi aktif dan secara positif dalam mendukung penuh upaya pemerintah untuk melakukan percepatan pembangunan di Bumi Cenderawasih.

Dengan adanya tindak sangat biadab dan keji dari Organisasi Papua Merdeka (OPM), yakni melakukan pembakaran pada gedung sekolah, hal tersebut menjadikan aktivitas belajar dan mengajar menjadi sangat terhambat atau terganggu, yang mana juga berdampak pada hancurnya generasi muda Papua karena mereka terhambat dalam menjalankan pembelajaran untuk menjadi SDM yang unggul.

Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Manado