Jakarta-Intipnews.com:Kementerian Kesehatan terus memperkuat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah strategis dalam membangun peta kesehatan nasional yang lebih komprehensif dan berkualitas.
Hingga awal Mei 2026, pelaksanaan Program CKG telah menjangkau lebih dari 100 juta peserta di seluruh Indonesia melalui lebih dari 10 ribu puskesmas yang tersebar di 514 kabupaten dan kota.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari menilai data tersebut menjadi instrumen penting dalam memetakan persoalan kesehatan nasional secara lebih akurat dan berkelanjutan.
“Melalui program ini, pemerintah tidak hanya menjaga kesehatan siswa. Ini juga membangun fondasi SDM yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta.
Program CKG sekolah sendiri menunjukkan masih tingginya persoalan kesehatan di kalangan pelajar. Hasil pemeriksaan sepanjang 2025 mencatat gangguan kebugaran mencapai 60,69 persen, karies gigi sebesar 47,24 persen, serta anemia sebanyak 27,49 persen.
Sementara itu, pada periode Januari hingga awal Mei 2026, sebanyak 4.883.890 siswa telah mengikuti skrining kesehatan di 45.596 sekolah di berbagai daerah.
Tidak hanya di kalangan pelajar, hasil CKG juga menunjukkan meningkatnya ancaman penyakit tidak menular pada masyarakat secara umum.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan tingginya prevalensi hipertensi menunjukkan pentingnya pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan.
“Hipertensi pada lansia memiliki konsekuensi klinis dan sosial yang berat. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis. Bukti epidemiologis juga mengaitkan hipertensi jangka panjang dengan percepatan penurunan kognitif dan peningkatan kebutuhan perawatan jangka panjang,” kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi.
Mulai 2026, peserta yang terdiagnosis hipertensi maupun diabetes melalui CKG dapat langsung memperoleh obat di puskesmas pada hari yang sama.
Selain menjadi instrumen medis, Program CKG juga mulai dimanfaatkan sebagai basis penyusunan kebijakan kesehatan daerah.
Data hasil pemeriksaan digunakan pemerintah untuk merancang program intervensi yang lebih tepat sasaran, seperti peningkatan edukasi pola hidup sehat, penguatan aktivitas fisik masyarakat, hingga penanganan kesehatan gigi dan penyakit kronis.
Pemerintah menilai keberadaan peta kesehatan nasional yang diperoleh melalui Program CKG menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia di masa depan.
Dengan data yang lebih besar, lebih mutakhir, dan menjangkau hampir seluruh wilayah, pemerintah optimistis kebijakan kesehatan dapat disusun secara lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Itp.ril





