Menangkap Sinyal Bencana Dunia Sastra

21

Penulis: Jaya Arjuna

Aku memasuki dunia sastra melalui bacaan dan menulis. Membaca dengan oe dan dj. Menulis tentu saja dengan tulisan tangan. Pinsil dan pulpen plus botol tinta. Karena perlu kemudahan dan kebersihan, maka pulpen dan tinta di tukar jadi ballpoin. Zaman berubah dan usia bertambah. Aku mulai mengenal mesik tik. Seronok mendengar ketukan tut mesin tik pada rol, seakan musik yang terus mengundang  iham. Rangkaian huruf membentuk kata. Kata berjajar membentuk kalimat. Apa yang ada di fikiran bisa dibaca ulang, baik untuk merubah maupun mencari kata dan kalimat baru.

Perubahan zaman dan perkembangan teknologi tekah mengenalkanku pada  komputer. Aku mali mengenal wordstar 4 dan lotus. Ada istilah disket. Dihadapanku ada layar kaca. Tidak ada lagi kertas dan rol hitam yang selalu bergerak kekiri kan kanan sesuai perubahan jumlah kata dan kalimat serta paragrapf yang kutulis.  Satu disket di rongga bahagian atas dan satu di bawah.  Semua kata yang membuncah di otak sudah bisa tersimpan dalam disket. Bisa dibaca ulang, bisa ditambah maupun di kurangi. 

Perkembangan teknologi berpacu laju terus dalam perkembangan komputer. Bisa diawali dengan kemempuan menyimpan 256 kilobyte, 1,14 Megabyte hingga sekarang kapasitasnya  sudah lebih Terabyte dan bahkan lebih. Tuntutan penghematan sumber daya alam mengharuskan manusia mencipta alat yang volumenya makin kecil dan kemampuannya makin besar.

Para penggiat sastra sangat merasa nyaman dengan ketersediaan teknologi yang mampu dimanfaatkan untuk menampung semburat ilham yang ada di benaknya. Kata demi kata merangkai masuk tersimpan di disket, flash disk, harddisk dan bahkan bisa di tampung di dunia maya entah dimana yang pasti dia ada. Karya demi karya tidak lagi berpindah dalam bentuk kertas melalui tangan tukang pos. 

Semua karya bisa berseliweran entah dijalur mana namun pasti bisa sampai ketangan dan ruang baca yang dituju. Para redaktur juga tidak perlu lagi menyuruh ketik ulang karya yang sampai ke tangannya. Koreksi langsung dan segera bisa naik ke fasilitas cetak. Semua terlihat bahagia. Pengarang, redaktur dan pembaca.

Perkembangan dunia elektronika memang sangat membantu dan membahagiakan pengarang. Pengambilan honor tidak perlu lagi mendatangi sekretaris redaksi. Juga tidak perlu ke Kantor Pos menukar wesel. 

Perangkat komunikasi yang di tangan pengarang yang beruntung karyanya terpilih untuk dimuat, langsung bisa tahu bahwa honornya sudah keluar. Cair. Pembaca juga tidak perlu menunggu karya tulis baik katagori sastra maupun status tak jelas kualitas sastranya dalam bentuk cetak. Tanpa perlu kualifikasi, langsung bisa baca karena sudah masuk ke benda petak kecil yang berada di kantongnya. Tentu saja ada yang perlu berbayar.     

Teknologi komunikasi dan kemampuan perangkatnya pendukung terus berkembang. Berpacu laju. Sesaat keluar dari perangkat penulis, sudah bisa langsung diakses pembacanya. Walaupun dunia sastra termasuk disakralkan oleh para  pengarang dan sastrawan, fakta lapangannya dunia teknologi dan ekonomi sudah mulai berjalan di depan. Kesakralan dunia sastra mulai diusik. 

Perkembangan teknologi komunikasi terlihat mulai jadi ancaman bagi pengarang. Baik dari segi kreatifitas dan produktitas karya maupun dari sisi pembaca. Dunia teknologi awalnya dikembangkan oleh kecerdasan manusia. Kini manusia manusia cerdas pecipta teknologi dengan entengnya akan memangsa manusia konsumen ciptaannya. Homo homini lupus. Karya teknologi mulai mengancam dunia sastra.

Para pencipta teknologi mulai merasa kecerdasan pengarang itu bisa ditiru. Tidak ada hubungannya dengan ilham yang bergelut di alam metafisik. Teknologi yang disebut dengan Artificial Intelligencce (AI) dianggap mampu meniru kecerdasan manusia. Termasuk kemampuan pengambilan keputusan, logika, dan karakteristik kecerdasan lainnya. Kelebihan yang dimiliki pengarang dan sastrawan sehebat apa dan secerdas apapun pasti bisa ditiru. Pencipta teknologi bahkan mengabaikan bahwa pengarang, sastrawan dan seniman lainnya  selain pakai otak, juga hati dan perasaan. 

Mereka tak peduli. Bukan hanya pengarang, pelukis dan bahkan semua seni dan aspek kehidupan sudah patut cemas dengan ancaman dunia  AI.

Disela acara penganugrahan penghargaan untuk sastrawan yang berkarya lebih dari lima puluh tahun, aku berkesempatan mengunjungi sebuah cafe yang sekaligus juga sebuah penginapan artistik minimalis di Matraman 24 Jakarta. Memasuki ruang cafe, aku disuguhi dengan gantungan lukisan The Beatles di dindingnya. Cerdas.

Mendampingkan dunia hiburan halwa mata dengan telinga dengan seni lukis. Ruang musik sekaligus gallery lukisan. Aku merasa bahwa salah satu hambatan bagi pelukis untuk berpameran sudah bisa diatasi. Pameran bisa saja dilakukan dimana ada ruang interaksi dengan orang ramai. Ternyata pameran lukisan bukan hanya di ruang bawah saja. Lantai atas juga hingga lantai tujuh. 

Ruang pamer ini menempati dinding sepanjang  lorong˗lorong penginapan yang menampilkan 182 lukisan Denny JA. Lukisan ini ternyata paut dengan keberadaan teknologi AI. Teknologi sudah merambah dunia seni lukis.

Sesuai dengan perkembangannya, teknologi AI ternyata sudah merambah dunia automotif, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan reformasi birokrasi. Bahkan diinformasikan bahwa kecerdasan artifisial juga mulai diterapkan dunia pendidikan yang mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan juga perilaku peserta didik. 

Lukisan  Denny JA dengan sentuhan AI menampilkan lukisan terkait dunia anak, Gaza dan Palestina, karya pelukis dunia dan meditasi pada dunia tempo dulu. Semua aspek kehidupan. Semua strata kehidupan. Sesaat aku terduduk pada salah satu lantai pameran. Bagaimana bila ada ada manusia cerdas sedikit biadab yang mengkomersilkan produk AI dalam dunia pelacuran. Mereka operasikan robot cerdas seperti laki˗laki dan perempuan  sebagai asuhannya. Mereka jual atau sewa  persatuan waktu. Apakah termasuk zina atau tidak. Yang jelas kebersihan dan kerehatan pemakainya terjamin. Hanya bermodalkan disinfektan. Tak ada hubungan kemanusiaan yang tersentuh. Tak ada istilah pelakor atau selingkuh. Tak ada istilah khianat dan pengkhianatan. Tentu saja tidak ada istilah cinta kecuali rasa.

Sewaktu sedang acara penyerahan penghargaan bagi sastrawan senior (50) tahun dan junior (40) tahun, aku kembali berfikir rambahan teknologi AI pada dunia kesusasteraan. Bila saat ini ada sastrawan yang dihargai, bagaimana nanti bila karya sastra didominasi karya “sastrawan” AI. Tak ada peran manusia. AI akan menggenerasi perangkat dan produk sastra. Sulit untuk membayangkan hilangnya ruh sastra dalam dunia kesusasteraan. “Sastrawan” AI akan menginventarisir informasi sebagai masukan bagi sebuah tulisan berlabel  karya sastera terkait alur cerita, tingkat klimaks, karakater tokoh, penggunaan kata, pilihan bahasa baku, bahasa asing atau prokem. Demikian juga seting lokasi kejadian dan waktu. Bahkan semua informasi tentang tokoh pelaku antagonis dan protogonis yang terkait masa lalu, sejarah dan masa depan dapat jadi masukan. AI akan mengumpulkan tentang cara bercerita dan mengakhiri cerita dengan pilihan happy ending, tragedi, komedi, pesan moral yang jumpalitan atau menggurui. 

Masukkan ini akan dapat dikelola oleh siapapun yang mampu menggunakan teknologi AI. Semua sudah terkumpul di dunia maya.  Dapat diakses, dihimpun dan diolah bahkan hanya dengan perintah suara. Tak perlu sentuhan pena, tekanan pada tut huruf dan keyboard. Asal perintah dan alurnya tepat, maka sebuah ”karya sastra” akan diproduksi oleh AI hanya dalam waktu yang sangat singkat. Jadilah ”karya sastra”  

Sama halnya dengan pernyataan kiamat sudah semakin dekat. Bencana pada dunia kesusasteraan sudah pada pertengahan gemuruh sangkakala. Sinyalnya semakin dekat dan semakin kuat. Guru dan dosen yang mengajar kesusasteraan mungkin sudah menyiapkan Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) menggunakan AI. Pelajar dan mahasiswa juga sudah bersiap untuk melengkapi bahan pelajaran dan kuliahnya melalui AI. Bila ujian dan jawaban juga dipersiapkan melalui AI, maka lengkaplah bencana kiamat dunia kesusasteraan. Tingkat pemahaman dan pengalaman serta produk kesusasteraan saat ini masih ditentukan umur dan lama berkarya, maka nanti akan ditentukan siapa yang paling canggih membangun sistem AI. Mungkin saja sastrawan senior akan diangkat sebagai tenaga ahli yang memberi masukan menyempurnakan sistem  AI. Sistem komputer yang dapat berfikir, berkarya lebih efektif serta lebih cerdas dalam bidang sastra.  Selamat datang di dunia Kesusasteraan tanpa ruh.